Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia (SKSG) Universitas Indonesia (UI) mengadakan diskusi publik bertajuk “Grand Design Politik dan Kepemimpinan Nasional: Prospek Kontribusi Generasi Muda Mewujudkan Indonesia Emas 2045” dengan menghadirkan pembicara Direktur Wahid Foundation Yenny Wahid, Ketua Umum Taruna Merah Putih Maruarar Sirait, Walikota Bogor Bima Arya, dan Ketua Forma SKSG UI Bahal Siregar. Diskusi yang dihadiri oleh kurang lebih 250 peserta secara luring tersebut dipandu oleh Mufida Inas Aulya, mahasiswa program studi Kajian Wilayah Timur Tengah Islam SKSG UI.

Sesuai amanat Pembukaan UUD 1945, Indonesia adalah negara yang berdaulat, adil, dan makmur. Berdasarkan fondasi tersebut, salah satu proyeksi dari Indonesia Emas adalah lahirnya negara yang memiliki ketahanan ekonomi terbaik di dunia. Indonesia memiliki dua privilege, yaitu sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM). Keduanya akan menjadi bonus demografi pada 2045 jika dikembangkan dengan tepat. Oleh karena itu, dibutuhkan grand design politik dan kepemimpinan nasional yang tepat agar Indonesia dapat memanfaatkan peluang ini.

Generasi muda adalah kunci lahirnya Indonesia Emas 2045. Menurut Walikota Bogor, Bima Arya, pada 2030, 65% masyarakat Indonesia diisi oleh usia produktif, artinya hampir 200 juta penduduk akan berkontribusi pada pembangunan Indonesia. Yang dibutuhkan Indonesia pada 2030 adalah 117 ribu dokter, 2,2 juta insinyur, 10 juta pengusaha, serta berbagai profesi lainnya. Jika bonus demografi ini gagal dimanfaatkan, muncul pengangguran dengan jumlah sangat tinggi, sebagaimana yang terjadi di Brazil dan Afrika selatan (53% milenial di Afrika Selatan menganggur). Oleh karena itu, peluang Indonesia Emas 2045 bisa berubah menjadi musibah jika masyarat dan pemerintah tidak siap.

Membaca kondisi ini, selain Bima Arya, SKSG UI juga mengundang Yenny Wahid dan Maruarar Sirait untuk membicarakan grand design yang harus disiapkan oleh generasi muda demi tercapainya Indonesia Emas 2045. Diskusi yang diadakan di Gedung Makara Art Center (MAC) UI, pada Senin (27/6), ini dihadiri Kepala UPT MAC UI, Dr. Ngatawi Al-Zastrouw; mahasiswa dari berbagai universitas di Jabodetabek; dan telah disaksikan oleh 11,354 views di Youtube Humas SIL & SKSG UI.

Wakil Direktur SKSG UI, Dr. Eva Achjani Zulfa, S.H., M.H., menilai pertemuan ini sebagai upaya bagi generasi muda untuk mempersiapkan diri atas situasi yang tidak diketahui ke depannya. “Pendahulu kita menghadapi musuh yang nyata, para tentara Belanda dan Jepang, yang riil bisa dihadapi. Pada masa Orde Baru, Orde Lama, hingga Reformasi, musuh kita adalah ancaman ekonomi. Saat ini, ancaman datang menimpa ketahanan ekonomi, ketahanan pangan, hingga ketahanan keamanan dalam lingkup kesehatan. Itu adalah ancaman-ancaman yang kedepannya akan kita hadapi,” kata Dr. Eva dalam sambutannya.

Menurut Yenny Wahid, tujuan berpolitik adalah untuk memilih pemimpin; memilih sistem pemerintahan yang membuat rakyat bahagia, sejahtera, aman; dan menjadi negara yang merdeka, berdaulat, serta memainkan peran besar dalam perpolitikan dunia. “Seperti yang saat ini dilakukan Presiden Jokowi, mampir ke Ukraina dan Rusia untuk mencoba mendamaikan. Kenapa harus didamaikan? Karena dengan adanya globalisasi, efek konflik tidak terbatas pada Rusia dan Ukraina saja, tetapi juga berdampak pada kita,” katanya.

Yenny menyampaikan ada tiga tantangan yang dihadapi umat manusia, yaitu teknologi, ekologi, dan ideologi. Tantangan teknologi mengubah pola komunikasi manusia dengan menjadikan virtual reality sebagai realitas baru. Hal ini berdampak pada berbagai aspek, termasuk hilangnya lapangan pekerjaan. Meski begitu, muncul peluang baru sebagai bentuk adaptasi manusia. Tantangan ekologi meliputi alam dan sosial. Emisi yang dihasilkan manusia berdampak pada perubahan iklim yang memengaruhi lingkungan, sedangkan konflik, perang, dan masalah sumber daya membuat orang terusir dari kampung halamannya. Adapun tantangan ideologi muncul dalam bentuk transnational movement yang mengubah ideologi dengan mengotak-kotakkan masyarakat hingga lahir supremasi mayoritas yang menyebabkan konflik.

Tantangan lain yang dihadapi Indonesia disoroti Bima Arya. Dari segi kualitas SDM, angka prevalensi stunting nasional saat ini 24%, sementara standar WHO maksimal adalah 20%. Angka tersebut menjadikan Indonesia berada di peringkat 115 dari 151 negara di dunia. Selain itu, 75 ribu anak putus sekolah, 50% di antaranya putus sekolah dasar. Perlu upaya serius untuk mengatasi permasalahan gizi dan pendidikan ini. Lebih lanjut, untuk meraih Indonesia Emas, bukan hanya knowledge yang disiapkan, melainkan juga karakter. Generasi muda harus berpikir menyiapkan masa depan, bukan hanya menanti masa depan.

“Generasi 2045 yang dapat menyelesaikan tantangan ini adalah generasi kosmopolitan. Generasi ini kuat akar lokalnya, memiliki jiwa nasional-patriotis, dan dapat bersaing di era global. Artinya, generasi tersebut memahami nilai-nilai leluhurnya, mencintai bangsanya tanpa fanatik pada kelompok tertentu, serta dapat mengikuti perkembangan dunia. Kita harus menanamkan bahwa apa yang kita nikmati hari ini adalah hasil ikhtiar pendahulu kita dan apa yang kita lakukan hari ini akan dinikmati generasi mendatang,” kata Bima Arya.

Sementara itu, Yenny melihat perlunya sinergi dalam menyelesaikan tantangan ini. Masalah di Indonesia tidak cukup diselesaikan oleh pemimpin formal, tetapi juga harus melibatkan pemimpin informal. Pemimpin formal adalah orang yang mendapat mandat dari masyarakat melalui proses politik untuk menciptakan kesejahteraan melalui kebijakan publik, sedangkan pemimpin informal adalah orang yang punya pengaruh besar di masyarakat, seperti influencer, tokoh agama, tokoh masyarakat, aktivis kemanusiaan, serta aktivis lingkungan hidup.

“Anak-anak muda dan para influencer harus ambil bagian menjadi agent of change, terutama agent of peace, yaitu agen yang membawa perubahan positif di tengah-tengah masyarakat,” kata Yenny yang juga merupakan Ketua Federasi Panjat Tebing Indonesia.

Berbicara tentang perubahan, Ketua Umum Taruna Merah Putih, Maruarar Sirait, menilai generasi muda perlu memiliki komponen yang positif dalam diri, seperti nilai, moral, ilmu, teori, metode, karakter, dan mental. Tujuh komponen ini akan mengantarkan pemuda menuju generasi emas 2045. Penting bagi individu untuk membangun super team dan kolektivitas, misalnya dengan ambil bagian di organisasi kampus, seperti BEM. Hal inilah yang membawa perubahan besar bagi masyarakat.

“Sebagaimana disampaikan Ir. Soekarno, Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia, peran pemuda begitu besar bagi Indonesia. Calon pemimpin harus memiliki pandangan yang mengedepankan toleransi, menghargai keberagaman, pemberani dan percaya diri, serta siap menerima konsekuensi dari setiap pilihan,” kata Maruarar yang merupakan anggota DPR RI periode 2014–2019.